Halaman

Kamis, 11 April 2013

Mentan Apresiasi Kemitraan Inti Plasma Hortikultura

Menteri Pertanian, Dr. Ir. Suswono, MMA memberikan apresiasi terhadap program Kemitraan Inti Plasma Hortikultura dalam Kawasan Bisnis Berbasis Inovasi di Desa Sukodono, Gresik Utara pada Senin (1/4/2013).
 
”Saya sangat mengapresiasi upaya pengadaan Kawasan Bisnis Khusus Hortikultura. Program ini bisa menjadi jawaban atas persoalan yang selalu dihadapi pemerintah terkait dengan persoalan importasi  produk hortikultura," katanya
 
Menurut Mentan, selama ini pemerintah terus mendorong petani lokal untuk menanam komoditas hortikultura tanpa merusak alam. ”Program ini sejalan dengan apa yang digalakkan pemerintah,” tambahnya.
Rencananya, di Kawasan seluas 2000 hektare ini akan ditanami mangga jenis Malaba. Diharapkan, mangga yang dihasilkan di kawasan ini dapat memenuhi kebutuhan pasar dalam negeri hingga pasar ekspor di luar negeri. "Iniasiatif ini yang ditunggu-tunggu. Ini dapat memberdayakan petani," katanya.
Optimisme Mentan terhadap Kawasan Bisnis Khusus Hortikultura ini terkait dengan potensi Indonesia sebagai daerah tropis yang lahannya sangat bagus untuk ditanami komoditas mangga. Apalagi, selama ini mangga Indonesia sangat diminati pasar ekspor seperti Timur tengah, China, Hongkong, Singapura, Malaysia hingga Eropa. “Jadi peluangnya sangat besar,” tukas Mentan
 
Untuk itu, ke depan Mentan meminta agar mangga yang dikembangkan disesuaikan dengan minat pasar.  ”Di luar negeri, mangga yang digemari adalah yang warnanya menarik seperti jingga dan kuning. Nah, jenis inilah yang harus dikembangan. Jadi yang harus diperhatikan betul adalah rasa mangga yang enak, menarik dan bisa tumbuh sepanjang tahun. Karena kita ketahui antara April – Agustus, mangga tidak berbuah,” jelasnya.

Pemerintah Siapkan Sarana Produksi dan Harga yang Menarik Untuk Petani Kedelai

Pemerintah berupaya menggenjot produksi kedelai tanah air dengan memberikan bantuan mulai dari benih, pupuk, peralatan hingga harga yang bersaing kepada para petani kedelai.

Menurut Wakil Menteri Pertanian, Dr. Rusman Heriawan, masalah harga memang menjadi pemicu kurangnya minat petani menanam komoditas ini. “Banyak petani yang merasa kurang happy  karena harga kedelai di pasaran yang kurang menarik. Saat panen, harga hanya berkisar Rp. 4000 – Rp 5000 per kilogramnya. Sehingga, banyak petani kedelai yang membiarkan lahan pertaniannya tidak ditanami karena kalaupun ditanami kedelai, mereka merugi,” katanya usai acara pencanangan gerakan panen kedelai 2013 di Desa Pojok, Kecamatan Tawangharjo, Grobogan, Kamis (28/03/2013).

Dijelaskan Wamentan, kasus kelangkaan kedelai pada tahun 2012 lalu awalnya karena petani tidak mau menanam kedelai akibat harganya yang jatuh. Namun, karena kebutuhan yang sangat tinggi dan harga yang terus naik membuat petani kembali bergairah. “Mahalnya harga kedelai pada tahun 2012 lalu memiliki hikmah yaitu petani kembali bergairah untuk menanam kedelai,” ujarnya 

”Untuk itu kami minta kepada pimpinan daerah dan petani terus berusaha agar produksi kedelai nasional bisa meningkat. Pemerintah sendiri membantu kepada petani berupa benih, pupuk dan harga yang menarik,” katanya.

Sebagaimana diketahui, hingga saat ini kebutuhan kedelai nasional mencapai 2,4 juta ton, tetapi baru terpenuhi dari hasil panen petani sekitar 850 ribu ton, atau sekitar 35 persennya saja. “Ini tentu menjadi peluang yang bagus untuk petani kedelai. Asalkan disiplin kita pasti mampu meningkatkan produksi kedelai tanah air,” tukasnya.