Laman

Minggu, 14 Juli 2013

Sampai Kapan Kita Impor?


Semua presiden negeri ini semua menyisakan masalah impor, khususnya pangan yang sampai sekarang cenderung terus meningkat. Belum ada presiden yang berhasil menghentikan atau mengurangi impor pangan dengan produksi dalam negeri. Catatan Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat selama Januari-Juni 2011, nilai impor pangan mencapai US$5,36 miliar atau sekitar Rp45 triliun. Nilai impor pangan semester I tahun 2011 lebih tinggi jika dibandingkan dengan semester yang sama tahun 2010. BPS juga mencatat, nilai impor pangan pada tahun lalu sebesar US$4,66 miliar atau setara dengan Rp39,91 triliun.

Perkiraan nilai impor akan terus meningkat di tahun 2013 ini, diperkirakan naik sekitar 10%. Kenaikan impor tahun 2010 ke 2011 sekitar 7%, kondisi ini membuat sedih bangsa ini. Kenapa impor selalu menjadi andalan utama dalam memenuhi kebutuhan dalam negeri? Bukankah kita negeri agraris dan maritim yang kaya akan segalanya.

Krisis Pangan

Dunia memang sedang dilanda krisis pangan, Kelaparan di dunia 60 persen berada di kawasan Asia dan Pasifik, diikuti oleh negeri sub Sahara dan Afrika sebesar 24 persen, serta Amerika Latin dan Karibia 6 persen. Setiap tahun orang yang menderita kelaparan bertambah 5,4 juta jiwa. Bahkan setiap tahunnya 36 juta jiwa rakyat mati karena kelaparan dan gizi buruk. Puncaknya 2010 PBB melalui FAO merilis terdapat 975 juta jiwa manusia di dunia yang terancam kelaparan dan kematian.

Dunia gagal mengatasi kelaparan, cita – cita FAO untuk mengurangi angka kelaparan sebanyak 575 juta jiwa tahun 2015 sulit akan terealisasi. versi pememrintah angka kemiskinan masih sekitar 13% atau setara 30 juta jiwa. Penduduk miskin negeri ini mencapai angka sekitar 25%  atau setara 60 juta jiwa dengan standar ADB. Standar kemiskinan yang digunakan ADB adalah penghasilan di bawah 1,25 dollar AS per hari (sekitar Rp 10.625). Rencana pemerintah untuk menurunkan angka kemiskinan sekitar 8 – 10% gagal terealisasi. Kebutuhan pangan sebagai kebutuhan pokok masyarakat tidak mampu dipenuhi, penerima raskin yang mencapai 71 juta jiwa memberikan gambaran rakyat negeri ini masih kelaparan. Masih ada 17,4% penderita gizi buruk dan malnutrisi yang meghantui bayi, bahkan kecenderungan akan terus naik jika pemerintah gagal menyediakan pangan bergizi untuk masyarakat.

Kondisi diatas menggambarkan bahwa krisis pangan menjadi ancaman serius bagi keberlangsungan hidup masa depan dan generasi bangsa ini. Keberadaan kebijakan yang selalu pro dengan pasar dan kapitalisme menjadikan impor sebagai alasan untuk menstabilkan kondisi makro ekonomi nasional. Ketergantungan kepada impor jelas sangat berbahaya disaat nantinya kondisi negara pengkespor pangan sedang dilanda masalah. Kita lihat Thailand yang sedang mengalami krisis produksi pangan akibat bencana banjir.

Keputusan Penting

Jared Diamond dalam bukunya, Collapse : How Societes Choose to fail or succeced (2005) memasukan Indonesia selain Nepal dan Kolombia sebagai peradaban yang mungkin dekat dengan keruntuhan. Ya mungkin analisis ini bisa terjadi jika negeri ini terus masih mengantungkan pangan dari bangsa lain. Keruntuhan bukan secara hukum negara bubar, namun negeri ini akan “dikendalikan” olah bangsa lain yang berarti tidak memiliki kedaulatan. Jonh perkin (2005) juga sudah mengingatkan akan bahaya impor, karena Indonesia adalah negera besar yang kaya akan segalanya. Kekurangan bangsa ini kata Perkin, pemimpin kita mudah menerima upeti, itu saja.

Negeri ini tidak boleh lagi mengambil keputusan yang salah, khususnya soal impor pangan. Penataan lembaga pangan nasional haruslah menjadi prioritas, jangan biarkan kelembangaan pangan kita centang perenang tidak jelas alur dan arah kordinasinya. Pangan lokal biarkan menjadi menu favorit, kita tidak ingin “memberaskan” Indonesia, kekayaan alam harus terus diteliti untuk peningkatan diversifikasi pangan nasional. Soekarno memilih mengentikan ikan impor dari Malasyia walaupun rakyatnya kelaparan, namun keputusan ini memberikan dampak luar biasa bagi nelayan kita. Ada harapan yang dijanjikan Soekarno bahwa kita bisa hidup tanpa harus makan pangan impor yang menguntungkan bangsa lain. Pertanyaannya sapai kapan kita akan terus impor? Siapa yang akan bisa menjawab kalau bukan kita sendiri.

Ditulis Oleh: Riyono
Sekjen DPP Perhimpunan Petani Nelayan Sejahtera Indonesia

Jumat, 24 Mei 2013

PPNSI : Segera Sahkan RUU PPP

Ditengah badai harga bawang public lupa akan masalah pokok dari pangan yang sedang melanda negeri ini. Sejak zaman Soekarno sampai SBY menjabat  dua peroide selalu saja pangan menjadi problem penting selain air dan energy. Kenaikan harga bawang hanya bagian kecil dari masalah salah urusnya negeri ini terhadap pertanian secara umum. “Perlindungan kepada petani bisa akan lebih optimal jika kita punya UU yang memang melindungi petani, termasuk pada saat kondisi sekarang dimana harga bawang naik sehingga petani juga ikut merasakan keuntungannya ” Kata Tamsil Linrung ketua DPP PPNSI dalam diskusi RUU PPP di warung daun cikini. 
Hal senada disampaikan oleh Atang Trsisnanto, tenaga Ahli Mentan bahwa RUU perlindungan dan pemberdayaan petani ini sangat penting terutama dari aspek perlindungan terhadap petani, saat ini Kementan sudah mengusulkan agar diwujudkan adanya asuransi bagi petani yang mengalami gagal panen, bencana dan perlindungan harga saat panen raya, ini sangat penting bagi petani.  Saat ini kementan sudah membuat pilot proyek asuransi petani di Jatim dan Sumatera. 
“Sebenarnya apa yang disampaikan oleh temen – temen PPNSI dan Kementan soal perlindungan kepada petani yang ada dalam RUU PPP ini sudah sejak lama dibahas, namun kenyataannya DPR sampai sekarang belum mengesahkan. Kenapa ini belum disahkan? Apa kendalanya? Kalau soal asuransi harusnya Kementrian keuangan memiliki political will untuk mengalokasikan anggaran yang hanya 2,5 Trilyun” ujar Khudori dalam diskusi itu. 
Saat ini DPR sedang masuk dalam pembhasan di Panja, sehingga usul dan saran temen – temen aktifis seperti PPNSI, SPI, WAMTI akan kita akomodir. Memang saat ini perlu tekanan public agar RUU PPP ini menjadi perhatian serius, karena dengan dekatnya agenda pemilu 2014 dan kasus kenaikan bawang merah dan putih menyita waktu DPR untuk ikut memantau dan mencarikan solusinya” jawab Hermanto aleg komisi IV DPR. 
“Sekarang waktunya DPR membuktikan keberpihkannya kepada petani, pilihannya hanya satu segera sahkan RUU PPP atau kami bersama petani akan turun ke jalan sebagai solusi untuk memperbaiki nasib negeri ini” tutup Riyono Sekjen DPP PPNSI 

Rabu, 01 Mei 2013

Pengendalian Penyakit Blas




Penyakit blas yang disebabkan cendawan Pyricularia grisea kendala utama pertanaman padi gogo, daerah pasang surut dan rawa. Daerah endemiknyaberada di Lampung, Sumatera Selatan, Jambi, Sumatera Barat, Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara dan Jawa Barat (Sukabumi). Khususnya blas leher, menjadi tantangan yang lebih serius karena banyak ditemukan pada beberapa varietas padi sawah di Jawa Barat (Sukabumi, Kuningan), Lampung (Tulang Bawang, Lampung Tengah) dan Sulawesi Selatan. Serangan blas daun yang tinggi dapat mempengaruhi pertumbuhan tanaman dan anakan produktif yang menyebabkan malai kecil dengan sedikit gabah bahkan dapat menyebabkan seluruh tanaman mati sebelum berbunga. Serangannya dapat menurunkan hasil secara langsung karena leher malai busuk dan patah sehingga pengisian terganggu dan bulir padi menjadi hampa. Pengendalian Ketahanan Varietas. Cara yang paling efektif, murah dan ramah lingkungan dalam pengendalian penyakit blas adalah penggunaan varietas tahan. Beberapa varietas yang masih menunjukkan reaksi tahan adalah Limboto, Danau Gaung, Situ Patenggang dan Batutegi.Pemakaian jerami sebagai kompos. Pembenaman jerami dalam tanah sebagai kompos dapat menyebabkan miselia dan spora dari Cendawan P. grisea mati karena naiknya suhu selama proses dekomposisi.  Penggunaan pupuk nitrogen dengan dosis anjuran. Dosis pupuk N berkolerasi positif terhadap intensitas penyakit blas, artinya semakin tinggi dosis pupuk N maka intensitas penyakit makin tinggi. Untuk itu, penggunaan pupuk N harus sesuai anjuran

Pendekatan Kimiawi
Perlakuan benih. Pengendalian penyakit blas akan efektif apabila dilaksanakan sedini mungkin, hal ini disebabkan karena penyakit blas dapat ditularkan melalui benih. Perlakuan benih dapat dilakukan dengan penggunaan fungisida sistemik seperti pyroquilon (5-10 g/kg benih). Cara perendaman benih (soaking). Benih direndam dalam larutan fungisida selama 24 jam dan selama periode ini larutan diaduk selama merata setiap 6 jam. Perbandingan berat benih dan volume air adalah 1 : 2 (1 kg benih : 2 liter air). Benih 
yang telah direndam dianginkan dalam suhu kamar di atas kertas koran dan dibiarkan sampai benih tersebut disebarkan di lahan gogo. Pada padi sawah perendaman dalam larutan fungisida dilakukan sebelum pemeraman.Cara pelapisan (coating). Cara ini lebih efektif dari pada cara pertama dan lebih cocok untuk lahan kering (gogo). Benih dibasahi dengan cara merendam beberapa jam kemudian ditiriskan sampai air tidak menetes lagi. Fungisida yang digunakan dengan dosis tertentu dicampur dengan 1 kg benih basah dan dikocok sampai merata, benih dikeringanginkan dengan cara yang sama seperti metode sebelumnya dan selanjutnya siap tanam. Penyemprotan tanaman. Efikasi fungisida untuk perlakuan banih hanya bertahan 6 
minggu dan selanjutnya perlu diadakan penyemprotan tanaman. Aplikasi penyemprotan untuk menekan serangan penyakit blas leher adalah dua kali yaitu pada saat anakan maksimum dan awal berbunga (heading 5%).Beberapa fungisida yang dapat digunakan untuk mengendalikan penyakit blas adalah yang mengandung bahan aktif isoprotionalane, benomyl+mancoseb, kasugamycin dan thiophanate methyl. (Santoso dan Anggiani Nasution, Balai Besar Penelitian Tanaman Padi)

Kiat-Kiat Pengendalian Penyakit Blas :
1. Gunakan varietas tahan sesuai dengan sebaran ras yang ada di daerah.
2. Hindarkan penggunaan pupuk N di atas dosis anjuran.
3. Hindarkan tanam padi terus-menerus sepanjang tahun dengan varietas yang sama.
4. Sanitasi lingkungan harus intensif, karena inang alternatif patogen khususnya kelompok rerumputan sangat potensial sebagai inokulum awal.
5. Hindari tanam padi terlambat dari petani disekitarnya.
6. Pengendalian secara dini dengan perlakuan benih sangat dianjurkan untuk menyelamatkan persemaian sampai umur 40 hari setelah sebar.
7. Penyemprotan fungisida sistemik minimum sekali pada awal berbunga untuk mencegah penyakit blas leher dapat dianjurkan untuk daerah endemik blas.
8. Hindarkan jarak tanam rapat (sebar langsung).
9. Pemakaian jerami sebagai kompos.


Banten Kerahkan 7.744 Petugas Lapang Sensus Pertanian

Serang (AntaraBanten) - Badan Pusat Statistik Provinsi Banten akan mengerahkan sebanyak 7.744 petugas lapangan untuk kegiatan sensus pertanian 2013 (ST2013) yang akan dilaksanakan 1-31 Mei, yang direkrut dari  unsur BPS sendiri dan mitra kerja yang berpendidikan minimal SMU, yang direkrut dari desa atau kelurahan setempat.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Banten Syech Suhaimi di Serang, Jumat, mengatakan para petugas lapangan sebanyak itu terlebih dahulu akan dilatih oleh 228 instruksi daerah (Inda) tentang mekanisme dan cara pencacahan yang akan dilakukan pada tanggal tersebut.

"Para calon Inda ini sudah kami latih di Kota Tangerang, Senin (18/3), yang diharapkan betul-betul mengerti dan memahami materi yang diajarkan instruktur nasional (Innas), sehingga dalam pelaksanaan petugas pendataan di kabupaten/kota dapat menghasilkan data yang berkualitas, khususnya pembangunan pertanian di Banten, kata Suhaimi.

Ia mengatakan, beberapa tahapan pembahasan telah dilakukan, baik intern maupun bilateral bersama-sama pemangku kepentingan seperti, kegiatan uji coba gladi kotor ST2013 di Kabupaten Pandeglang, beberapa waktu yang lalu.

Suhaimi mengatakan keberhasilan pelatihan calon Inda sampai dengan pelatihan petugas dan pelaksanaannya di lapangan, sangat ditentukan oleh niat, tekad, dan kesungguhan para Inda untuk melatih petugas yang nantinya akan mendata seluruh usaha pertanian di subsektor tanaman pangan, hortikultura (sayuran, barak militer, dan kelompok usaha bersama, buah-buahan, tanaman hias dan tanaman obat), perkebunan, peternakan, perikanan dan kehutanan, baik pada rumah tangga, perusahaan, pesantren, lembaga pemasyarakatan dan kelompok usaha bersama.

Ia menegaskan karena banyaknya sub sektor yang dicakup dan beragamnya pola usaha pertanian, maka memerlukan penekanan konsep/definisi dan perhatian khusus dalam diskusi.

"Pengalaman calon inda dalam melakukan pendataan dan pengolahan statistik pertanian serta mengetahui kondisi daerah pertanian masing-masing dapat dijadikan bahan diskusi dalam pelatihan inda, sehingga masukan dari calon inda dan KSK dapat digunakan untuk pelaksanaan ST2013 agar menghasilkan data yang berkualitas," katanya.

Para petugas yang akan d dilatih secara berjenjang untuk mendapatkan pemahaman konsep, definisi dan metodologi ST2013 yang sama, nantinya di lapangan pendataan dilakukannya dengan mendatangi kediaman atau kantor responden dengan memakai metode wawancara.

"Indikator-indikator ST 2013 adalah usaha pertanian, pelaku usaha pertanian, petani gurem, komoditas pertanian yang diusahakan, rumah tangga pertanian menurut komoditas, distribusi lahan yang dikuasai, jumlah petani menurut jenis usaha dan gender, jumlah kepala dan anggota rumah tangga menurut gender, usaha jasa pertanian, dan usaha pengolahan hasil pertanian," katanya menjelaskan.

Kamis, 11 April 2013

Mentan Apresiasi Kemitraan Inti Plasma Hortikultura

Menteri Pertanian, Dr. Ir. Suswono, MMA memberikan apresiasi terhadap program Kemitraan Inti Plasma Hortikultura dalam Kawasan Bisnis Berbasis Inovasi di Desa Sukodono, Gresik Utara pada Senin (1/4/2013).
 
”Saya sangat mengapresiasi upaya pengadaan Kawasan Bisnis Khusus Hortikultura. Program ini bisa menjadi jawaban atas persoalan yang selalu dihadapi pemerintah terkait dengan persoalan importasi  produk hortikultura," katanya
 
Menurut Mentan, selama ini pemerintah terus mendorong petani lokal untuk menanam komoditas hortikultura tanpa merusak alam. ”Program ini sejalan dengan apa yang digalakkan pemerintah,” tambahnya.
Rencananya, di Kawasan seluas 2000 hektare ini akan ditanami mangga jenis Malaba. Diharapkan, mangga yang dihasilkan di kawasan ini dapat memenuhi kebutuhan pasar dalam negeri hingga pasar ekspor di luar negeri. "Iniasiatif ini yang ditunggu-tunggu. Ini dapat memberdayakan petani," katanya.
Optimisme Mentan terhadap Kawasan Bisnis Khusus Hortikultura ini terkait dengan potensi Indonesia sebagai daerah tropis yang lahannya sangat bagus untuk ditanami komoditas mangga. Apalagi, selama ini mangga Indonesia sangat diminati pasar ekspor seperti Timur tengah, China, Hongkong, Singapura, Malaysia hingga Eropa. “Jadi peluangnya sangat besar,” tukas Mentan
 
Untuk itu, ke depan Mentan meminta agar mangga yang dikembangkan disesuaikan dengan minat pasar.  ”Di luar negeri, mangga yang digemari adalah yang warnanya menarik seperti jingga dan kuning. Nah, jenis inilah yang harus dikembangan. Jadi yang harus diperhatikan betul adalah rasa mangga yang enak, menarik dan bisa tumbuh sepanjang tahun. Karena kita ketahui antara April – Agustus, mangga tidak berbuah,” jelasnya.

Pemerintah Siapkan Sarana Produksi dan Harga yang Menarik Untuk Petani Kedelai

Pemerintah berupaya menggenjot produksi kedelai tanah air dengan memberikan bantuan mulai dari benih, pupuk, peralatan hingga harga yang bersaing kepada para petani kedelai.

Menurut Wakil Menteri Pertanian, Dr. Rusman Heriawan, masalah harga memang menjadi pemicu kurangnya minat petani menanam komoditas ini. “Banyak petani yang merasa kurang happy  karena harga kedelai di pasaran yang kurang menarik. Saat panen, harga hanya berkisar Rp. 4000 – Rp 5000 per kilogramnya. Sehingga, banyak petani kedelai yang membiarkan lahan pertaniannya tidak ditanami karena kalaupun ditanami kedelai, mereka merugi,” katanya usai acara pencanangan gerakan panen kedelai 2013 di Desa Pojok, Kecamatan Tawangharjo, Grobogan, Kamis (28/03/2013).

Dijelaskan Wamentan, kasus kelangkaan kedelai pada tahun 2012 lalu awalnya karena petani tidak mau menanam kedelai akibat harganya yang jatuh. Namun, karena kebutuhan yang sangat tinggi dan harga yang terus naik membuat petani kembali bergairah. “Mahalnya harga kedelai pada tahun 2012 lalu memiliki hikmah yaitu petani kembali bergairah untuk menanam kedelai,” ujarnya 

”Untuk itu kami minta kepada pimpinan daerah dan petani terus berusaha agar produksi kedelai nasional bisa meningkat. Pemerintah sendiri membantu kepada petani berupa benih, pupuk dan harga yang menarik,” katanya.

Sebagaimana diketahui, hingga saat ini kebutuhan kedelai nasional mencapai 2,4 juta ton, tetapi baru terpenuhi dari hasil panen petani sekitar 850 ribu ton, atau sekitar 35 persennya saja. “Ini tentu menjadi peluang yang bagus untuk petani kedelai. Asalkan disiplin kita pasti mampu meningkatkan produksi kedelai tanah air,” tukasnya.

Kamis, 14 Februari 2013

INILAH PROSES PADI MENJADI BERAS


Salam Pertanian ! inilah proses pengolahan padi menjadi beras yang biasa dimasak oleh ibu kita agar jadi nasi. Ternyata untuk membuat nasi yang biasa kita makan pagi, siang dan malam tak semudah yang kita bayangkan. Perlu kerja keras penuh dengan keuletan para petani kita. 


Gambar Padi Padi

Hasil panen padi dari sawah disebut gabah. Gabah tersusun dari 15-30% kulit luar (sekam), 4-5% kulit ari, 12-14% katul, 65-67% endosperm dan 2-3% lembaga. Sekam membentuk jaringan keras sebagai perisai pelindung bagi butir beras terhadap pengaruh luar. Kulit ari bersifat kedap terhadap oksigen, CO2 dan uap air, sehingga dapat melindungi butir beras dari kerusakan oksidasi dan enzimatis. Lapisan katul merupakan lapisan yang paling banyak mengandung vitamin B1. Selain itu katul juga mengandung protein, lemak, vitamin B2 dan niasin. Endosperm merupakan bagian utama dari butir beras. Komposisi utamanya adalah pati. Selain pati, endosperm juga mengandung protein dalam jumlah cukup banyak, serta selulosa, mineral dan vitamin dalam jumlah kecil.
Sekam merupakan 15-30% bagian gabah. Fungsi sekam antara lain melindungi kariopsis dari kerusakan, serangan serangga dan serangan kapang. Sekam terdiri dari palea dan lemma. Struktur palea/lemma yaitu epidermis luar, sklerenimia (mengandung lignin), parenkimia, dan epidermis dalam.
Kariopsis terdiri dari kulit luar dan endospem. Kulit luar terdiri dari perikarp (10µm), seed coat (0.5µm), nucellus (2.5µm), dan aleuron (5.0µm). Sedangkan endosperm terdiri dari sub aleuron, pati dan terdapat rongga udara pada beras pera sehingga mudah patah waktu digiling.


Klasifikasi beras menurut FAO
Sifat fisik gabah dan beras


Dalam standarisasi mutu, dikenal empat tipe ukuran beras, yaitu sangat panjang (lebih dari 7 mm), panjang (6-7 mm), sedang (5.0-5.9 mm), dan pendek (kurang dari 5 mm). Sedangkan berdasarkan bentuknya (perbandingan antara panjang dan lebar), beras dapat dibagi menjadi empat tipe, yaitu : lonjong (lebih dari 3), sedang (s.4-3.0), agak bulat (2.0-2.39) dan bulat (kurang dari 2).
Tinggi rendahnya mutu beras tergantung kepada beberapa factor, yaitu spesies dan varietas, kondisi lingkungan, waktu pertumbuhan, waktu dan cara pemanenan, metode pengeringan, dan cara penyimpanan. Persyaratan mutu beras yang ditetapkan oleh Bulog (1983) dapat dilihat pada tabel dibawah ini.


Persyaratan beras untuk pengadaan dalam negeri
.
Tahapan pengolahan primer padi, yaitu padi diolah menjadi gabah, kemudian dari gabah menjadi beras

Padi harus segera dikeringkan untuk menghindari pertumbuhan kapang yang dapat menyebabkan warna kuning. Pengeringan dapat dilakukan dengan memakai sinar matahari (penjemuran dengan menggunakan tikar, tampah, lamporan), pengering buatan dan pengering surya.
Lamporan dibuat miring supaya air dapat mengalir dan untuk mencegah air tergenang. Pada pengering buatan, jika kering cepat maka akan banyak menghasilkan beras patah. Sedangkan pengeringan dengan sinar matahari untuk menghasilkan beras kepala. Pengeringan surya tidak cocok untuk gabah biasa. Pengeringan surya ini sangat mahal biasanya untuk padi bulu yang nilai ekonominya tinggi.
a. Penggabahan
Cara penggabahan antara lain diinjak-injak, dipukulkan, ditumbuk, menggunakan pedal thresner dan mesin perontok. Keuntungan cara penggabahan diinjak-injak adalah kerusakan fisik kecil dan kemungkinan loss/hilang/terpelanting sangat kecil, sedangkan kerugiannya adalah kapasitasnya rendah. Keuntungan bila dipukulkan adalah kapasitas lebih besar sedangkan kerugiannya adalah ada beras yang patah, loss lebih besar. Untuk menghindarinya harus dikerjakan dalam pulungan. Keuntungan bila ditumbuki adalah kapasitas lebih besar dari pada diijak- injak, sedangkan kerugiannya adalah rendemen yang dihasilkan rendah karena banyak beras yang patah. keuntungan dengan menggunakan pedal thresner adalah kapasitasnya besar sedangkan kerugiannya adalah banyak beras yang patah.
b. Penggilingan dan Penyosohan
Penggilingan adalah proses pemisahan sekam dan kulit luar kariopsis dari biji padi agar diperoleh beras yang dapat dikonsumsi. Terdapat berbagai jenis teknologi/alat yaitu penumbukan (lesung/kincir air), penggilingan tipe Engelberg, Rice Milling Unit (RMU) dan penggilingan padi besar.


Tahapan penggilingan padi
Penggilingan Padi Besar
  1. Perontokan padi. Alat yang digunakan adalah rontogan; bahannya gabah, padi gedengan, “hencak”; sehingga dihasilkan gabah kotor (kotoran: potpngan merang, kerikil, bubuk jenteng, pasir, paku/logam, dan lain- lain).
  2. Pembersihan gabah kotor. Alat yang digunakan adalah ayakan goyang (paddy cleaner/ hongkwl gabah), saringan kasar (batu, kerkil, paku, dan lain-lain), saringan halus (pasir) serta penarik logam; bahannya gabah kotor; sehingga dihasilkan gabah bersih.
  3. Pemecahan kulit (husking). Alat yang digunakan adalah pemecah kulit tipe silinder; bahannya gabah; sehingga dihasilkan beras pecah kulit, sebagian kecil gabah utuh yang lolos, lolosan (pesak halus bercampur dedak dan menir), serta sekam.
  4. Pemisahan pesak. Alat yang digunakan adalah husk separator (hongkwl pesak), saringan pesak, dan saringan lolosan; bahannya beras pecah kulit, sekam, lolosan; sehingga dihasilkan beras pecah kulit bersih, dan gabah.
  5. Pemisahan gabah (paddy separation). Alat yang digunakan adalah paddy separator atau disebut gedongan; prinsipnya adalah perbedaan bobot jenis antara beras pecah kulit dan gabah, serta kehalusan permukaan gabah dan beras pecah kulit. Pada permukaan miring, beras pecah kulit akan cepat turun, sementara gabah terdesak ke atas; dibuat kamar-kamar.
  6. Penyosohan. Alatnya adalah mesin penyosoh (rice polisher), mesin I (penyosohan I), mesin II (penyosohan II), alat terdiri dari batu penyosoh (batu amaril) dan lempengan karet, karena ada gesekan antara beras dengan batu, lempengan karet, dan antara sesama beras maka beras akan tersosoh; bahannya adalah beras pecah kulit; sehingga dihasilkan beras sosoh, dedak (mesin sosoh I),bekatul (mesin sosoh II); dedak dan bekatul langsung dipisahkan dengan aspirator.
  7. Grading. Alat yang digunakan adalah ayakan beras (honkwl beras); memisahkan beras kepala, beras patah dan meni.


Komposisi gabah dan fraksi hasil giling (%db)
Komposisi kimia (%) pada kadar air 14%

Dalam pengertian sehari-hari, yang dimaksud dengan beras adalah gabah yang bagian kulitnya sudah dibuang dengan cara digiling dan disosoh menggunakan alat pengupas dan penggiling (“huller”) serat alat penyosoh (“polisher”). Gabah yang hanya terkupas bagian kulit luar (sekam)-nya, disebut beras pecah kulit (“brown rice”). Sedangkan beras pecah kulit yang seluruh atau sebagian dari kulit arinya telah dipisahkan dalam proses penyosohan, disebut beras giling (“milled rice”). Beras yang biasa dikonsumsi atau dijual di pasar adalah dalam bentuk beras giling.
Dalam proses penyosohan beras pecah kulit akan diperoleh hasil beras giling, dadak dan bekatul. Sebagian dari protein, lemak, vitamin dan mineral akan terbawa dalam dadak, sehingga kadar komponen-komponen tersebut di dalam beras giling menjadi menurun. Beras giling yang diperoleh berwarna putih karena telah terbebas dari bagian dedaknya yang berwarna coklat. Bagian dedak padi adalah sekitar 5-7% dari berat beras pecah kulit. Makin tinggi derajat penyosohan yang dilakukan maka makin putih warna beras giling yang dihasilkan, tetapi makin miskin beras tersebut akan zat-zat gizi yang bermanfaat bagi tubuh.

Referensi:
  • Tulus. 2006. Teknologi Pengolahan Beras (Teori dan Praktek). eBookPangan.com.
  • F.G. Winarno. 1987. Haruskah Kita Peduli rasa Nasi?. FTDC-IPB.